Informasi Dunia Pendidikan
Tari  

Mengenal Tari Loliyana Berasal dari Teon Nila Serua

Tari Loliyana berasal dari Teon Nila Serua. Sebuah wilayah yang masuk dalam Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Tarian ini merupakan tarian adat yang dikreasikan oleh masyarakat setempat. Banyak orang yang belum mengetahui tentang asal tari Loliyana ini.

Tari Loliyana hampir sama dengan tari adat yang lainnya. Seperti yang telah diketahui bahwa Indonesia memiliki suku adat yang beragam. Masing-masing adat mempunyai tarian atau budaya tersendiri. Seperti halnya tari Loliyana ini yang merupakan salah satu budaya rakyat maluku.

Sejarah Asal Tari Loliyana Lengkap

Tari Loliyana yang dibawakan oleh masyarakat adat Teon Nila Serua ini ditampilkan hanya dengan menggunakan sapu tangan putih. Ternyata ada kisah yang tersembunyi dari dipilihnya sapu tangan putih sebagai propertinya. Seperti apa kisah asal tari Loliyana ini? Simak ulasan berikut ini.

1.     Nama yang Berakar dari Binatang Laut Lola

Kata loliyana dalam bahasa Maluku merupakan sebuah kata yang sering digunakan untuk menyebut sebuah pekerjaan, yaitu mengumpulkan hasil laut lola. Secara ilmiah lola memiliki nama latin Trochus niloticus.

Lola merupakan salah satu binatang laut yang hampir mirip dengan kerang atau siput laut. Hewan ini berasal dari spesies Mollusca. Beberapa masyarakat sekitar menyebut hewan ini dengan nama siput lola atau siput susu bundar. Namun, nama yang paling umum digunakan adalah lola.

2.     Keadaan Hewan Lola

Hewan Lola ini banyak ditemukan pada ekosistem antara terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun. Bentuk cangkangnya seperti kerucut, serta memiliki panjang sekitar 50-165 mm. Diameter hewan ini sekitar 100-120 mm.

Dari sisi fisiknya, Lola memiliki warna cangkang krep keputihan dan corak bergaris lembayung. Pada dasar cangkang terdapat bintik berwarna merah muda. Akan tetapi, hewan laut ini mulai langka habitatnya sejak satu dekade yang lalu. 

Saat ini, Lola sangat sulit ditemukan di perairan Pulau Maluku dan Papua. Alasannya adalah pada tahun 1950, terjadi panen Lola secara masif yang mencapai hingga 50 ton/tahun. Seiring waktu berjalan, Lola menjadi semakin sulit ditemu dan tingkat panen semakin turun.

3.     Asal Mula Munculnya Tarian

Pada tahun 1992, hasil panen Lola bahkan hanya mampu mencapai 1,5 ton per tahun. Angka yang sangat berbeda dibandingkan pada kurun waktu 1950. Penyebab lainnya kenapa Lola menjadi sulit ditemukan adalah tidak diperhitungkannya siklus perkembangbiakan Lola. 

Masyarakat hanya memanen Lola, tanpa memahami dan menghitung waktu siklus perkembangbiakannya. Padahal, Lola hanya bisa berkembangbiak setelah usianya mencapai dua tahun. Kurangnya pemahaman tentang ekosistem ini yang membuat Lola semakin langka. 

Selain dagingnya yang dikonsumsi, bagian tubuh siput Lola yang lainnya juga dapat dimanfaatkan. Contohnya adalah cangkang Lola. Bagian cangkang ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk digunakan dalam kerajinan tangan dan industri kancing. 

Bahkan hasil kerajinan ini telah diekspor ke Korea, Jepang, dan Eropa. Hal tersebut juga menjadi pemicu kelangkaan Lola di perairan Maluku. 

Berawal dari kisah siput Lola yang menjadi binatang langka di Maluku, muncullah upacara adat tertentu. Hal tersebut sengaja dilakukan untuk meregenerasi binatang laut, termasuk Lola. Selain itu, upacara adat juga dilakukan untuk menjaga kelestariannya.

Upacara Adat Panen Lola

tari loliyana berasal dari

Upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Timur ini disebut dengan Sasi Lola atau Upacara Panen Lola. Pada dasarnya, upacara adat ini dilakukan ketika akan mengambil siput Lola secara berkala. Tujuannya adalah agar kapasitas lola yang ditangkap akan tetap terjaga. 

Apabila siput lola diambil dengan menggunakan upacara adat, maka masyarakat tidak akan mengambil siput lola secara berlebihan. Pada budaya di daerah Timur, seperti pulau Maluku dan sekitarnya, terdapat pranata adat yang dimiliki oleh masyarakat lokal.

Maksud dari adanya pranata adat tersebut adalah sebagai bentuk larangan atau pantangan dalam proses pengambilan atau pengumpulan hasil alam. Hal tersebut berlaku baik untuk hasil laut maupun atas hasil hutan.

Dalam pranata adat tersebut juga dijelaskan tentang batas waktu yang akan disepakati oleh masyarakat secara bersama-sama. Hingga saat ini, baik pranata adat maupun upacara adat masih dilakukan oleh masyarakat Maluku.

Inilah yang dilakukan oleh masyarakat adat, dengan tujuan agar keragaman biota laut yang ada di perairan mereka tidak mengalami kepunahan. Pengambilannya juga diatur sehingga masyarakat tidak bisa mengambil sesuka hati tanpa pertimbangan.

Terbentuknya upacara adat ini merupakan buah dari pelajaran yang diambil oleh masyarakat selama kurun waktu 1950 hingga 1992. Pengalaman dan peristiwa yang telah terjadi tersebut, memberikan pencerahan tentang pentingnya menjaga ekosistem dan biota Lola.

Proses Tari Loliyana dan Panen Lola

Tari adat Loliyana ini, selain memiliki inti kisah berupa upacara panen Lola, juga mengacu pada budaya dan tradisi yang ada di masyarakat Kepulauan Teon nila Serua Maluku. Secara umum, tarian loliyana merupakan gambaran akan upacara adat panen lola tersebut.

Tradisi panen lola ini, akan dilakukan setelah Sasi Lola. Ketua Agama dan Pemangku Adat akan secara resmi membuka upacara adat tersebut. Sebelum panen dimulai, maka akan diadakan pesta rakyat dengan mengelilingi api unggun. Waktunya adalah pada malam hari hingga menjelang pagi.

Setelah itu, akan dilanjutkan dengan berdoa dan syukuran kepada Tuhan demi keberhasilan panen. Proses panen akan mulai dilakukan ketika menjelang matahari terbit. Panen Lola ini dilakukan secara bersama-sama, baik masyarakat laki-laki dan perempuan.

Semua masyarakat ikut menyemarakkan panen Lola ini. Dari tradisi inilah kemudian lahir sebuah kreasi Tari Adat Loliyana tersebut. Gerakan para penari akan selaras dengan mengikuti alunan musik tradisional sebagai pengiringnya. Tidak lupa sapu tangan putih yang menjadi ciri khas tari Loliyana.

Gerakan Tari Loliyana

Asal tari Loliyana yang diketahui dari Kepulauan Teon Nila Serua, tentu saja untuk gerakannya memiliki ciri khas masyarakat Maluku. Tari Loliyana memiliki beberapa gerakan sebagai ciri khasnya, dengan tetap berpatokan pada budaya dan tradisi masyarakat Kepulauan Teon Nila Serua.

  • Wewa yaitu gerakan tangan yang berlenggang.
  • Mola pleta merupakan gerakan jalan yang divariasikan dengan lompat cepat.
  • Mola kekea yaitu gerakan jalan yang divariasikan lompat lembut.
  • Sompai yaitu gerakan penyembahan atau pemujaan kepada Tuhan.
  • Mwaci yaitu gerakan seperti mendayung perahu.
  • Nwuli yaitu gerakan menyelam ketika mengambil Lola dari dalam laut.
  • Nonami yaitu gerakan memberi umpan ke dalam laut.
  • Solina yaitu gerakan bergandengan tangan sambil membentuk lingkaran dengan tempo mulai dari pelan ke cepat.
  • Sottoly poy yaitu gerakan melompat keluar dari dalam perahu.
  • Taknani yaitu gerakan lompat dari perahu
  • Tawllota yaitu gerakan melompat sambil saling bergandengan tangan.
  • Rkoky iyelia yaitu gerakan mengikis untuk memisahkan antara dari daging lola dari bia.
  • Twalotta pergusukan yaitu gerakan melompat dengan penuh kegembiraan.
  • Kitty iyelia yaitu gerakan mengangkat hasil panen dari perahu ke pantai secara sambung menyambung.

Tarian Loliyana merupakan sebuah tarian adat yang menggambarkan tentang Upacara Adat Panen Lola. Asal tari Loliyana ini dari Kepulauan Teon nila Serua yang masih masuk di wilayah Maluku. Tarian ini dilakukan oleh penduduk setempat sebelum proses panen Lola dimulai.

4.8 average based on 220 votes (Closed)

Leave a Reply

Your email address will not be published.