Informasi Dunia Pendidikan
Tari  

Tari Campak dan Tari Sepen Berasal dari Provinsi Sumatera Selatan

Tari Campak dan tari Sepen berasal dari provinsi Sumatera Selatan. Tarian ini pertama kali diciptakan oleh masyarakat suku Sawang. Tema tari campak dan sepen adalah keceriaan bujang serta dayang di Kepulauan Bangka Belitung.

Awalnya tarian ini hanya dilakukan pada waktu tertentu seperti datangnya musim panen padi dan saat pulang dari kebun. Tujuan tari campak dan sepen adalah sebagai bentuk kebahagiaan dan wujud syukur kepada Allah SWT.

Sejarah Tari Campak dan Sepen 

Bangka Belitung adalah provinsi yang terdiri dari pulau Bangka dan Belitung. Tahun 2000, kepulauan Bangka Belitung baru saja terbentuk karena sebelumnya kepulauan ini sempat masuk ke wilayah provinsi Sumatera Selatan.

Masyarakat di kepulauan Bangka Belitung mayoritas adalah suku Melayu, sebagian besar masyarakatnya mempunyai profesi sebagai nelayan. Menurut sejarah, masyarakat Bangka Belitung menciptakan dan melestarikan tarian campak dan sepen sekitar tahun 1515 sampai 1575.

Hal ini juga bertepatan dengan kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia. Berikut ini penjelasan lengkap dari sejarah tari campak dan sepen khas pulau Bangka Belitung:

1.     Sejarah Tari Sepen

Tari sepen adalah salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Bangka Belitung, daerah kepulauan Bangka Belitung. Biasanya tarian ini ditampilkan saat festival budaya, penyambutan tamu besar, perayaan besar dan rombongan wisatawan.

Tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tari sepen diperkenalkan ke masyarakat luas sebagai seni dan budaya khas daerah Kepulauan Bangka Belitung.

Tari sepen sangat kental dengan unsur budaya Melayu, mulai dari kostum dan musik pengiring akan terlihat dengan sangat jelas ciri khas budaya Melayu.

Selain itu, tari sepen masih ada unsur budaya nusantara lainnya yaitu pencak silat. Makanya, tari sepen memiliki gerakan yang sangat cepat dan lincah karena setiap gerakannya adalah teknik dasar dari ilmu bela diri pencak silat 

Fungsi tari sepen adalah sarana hiburan, tarian selamat datang untuk menyambut tamu, meriahkan acara pernikahan, syukuran dan cara lain yang menggambarkan rasa gembira dan kebersamaan.

Tari sepen dilakukan secara berpasangan, antara penari laki-laki dan penari perempuan, dengan posisi lurus. Lalu, tarian sepen diiringi oleh 2 pemain gendang Melayu dan 1 orang pemain gambus.

Posisi gerakan tari sepen dilakukan dari langkah 1, langkah 2, dan langkah 3. Lalu dilanjutkan dengan pecahan 1, pecahan 2, dan pecahan 3. Setelah itu, tari sepen diakhiri dengan mengucapkan salam yang dinamakan Yase’.

2.     Sejarah Tari Campak

Sekitar abad ke-18, di pulau Seliu, tari campak dibawakan oleh Nek Campak yang berasal dari Raiy. Seiring berjalannya waktu, tari campak mengalami perubahan karena pengaruh akulturasi dari budaya Portugis. 

Makanya, mulai dari kostum, gerakan, dan iringan musik masih terlihat dengan jelas budaya Eropa-nya. Namun, adanya perubahan ini tidak sepenuhnya membuat budaya Melayu hilang.  

Budaya Melayu pada tari campak masih melekat, dapat dilihat dari iringan gendang, gong, dan pantun Melayu. Makna tari campak adalah sebuah perasaan gembira dan ceria pada hubungan remaja di Kepulauan Seribu. 

Makanya, para penari lebih banyak dari kalangan anak muda, hal ini sebagai bentuk ekspresi suka cita mereka. Keunikannya terletak pada perpaduan budaya Melayu dan Eropa.  

Mulai dari alat musik yang berbeda cara penggunaannya dan suaranya, tapi mampu menciptakan irama yang merdu dan cocok untuk mengiringi tari campak.

Lalu, busana yang digunakan penari cukup unik, penari perempuan memakai kostum ala budaya Eropa, penari laki-laki memakai kostum khas budaya Melayu. Perbedaan inilah yang membuat pertunjukkan tari campak semakin meriah dan menarik banyak perhatian penonton.

Tari campak berfungsi sebagai hiburan, penyampaian pesan, terapi fisik atau psikis, dan acara besar lainnya. Biasanya tari campak dibawakan saat perayaan pernikahan, hari besar islam, dan perayaan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Bangka Belitung.

Gerakan Tari Campak dan Sepen

Tari campak dilakukan secara berpasangan, terdiri dari 4 penari perempuan dan 4 penari laki-laki. Penari perempuan dinamakan Nduk Campak, sedangkan penari laki-laki dinamakan Mak Campak.

Mempunyai gerakan yang lincah, ceria dan gemulai, ditengah pertunjukkan para penari akan mengibaskan sapu tangan yang berada di jari jemari mereka.  

Selain itu, para penari juga memperlihatkan ekspresi ceria di wajah mereka. Hal ini sangat sesuai dengan tema tari campak yaitu kegembiraan.

Setelah para penari perempuan selesai, acara dilanjutkan dengan adegan pantun antara penari laki-laki atau perempuan, adegan ini merupakan ciri khas simbol dari budaya Melayu.

Menurut sejarah dulu, tari campak mempunyai dua jenis tarian yaitu tari campak darat dan campak laut. Berbeda dengan tari tradisional pada umumnya, tari campak mempunyai beberapa pola lantai yang bebas, seperti pola horizontal, vertical, zig zag, melingkar, dan setengah lingkaran.

Berkat perpaduan pola lantai ini, membuat tari campak menjadi tarian yang unik dan menarik untuk ditampilkan didepan penonton. Sedangkan tari sepen didominasi oleh gerakan tepuk tangan, lalu disesuaikan dengan alunan musik tradisional.

Tari sepen mengutamakan kelincahan dibagian gerakan tangan dan kaki, lalu mempunyai formasi yang sering berpindah tempat namun tetap terlihat rapi.

Iringan Musik Tari Campak dan Sepen

Tari campak diiringi oleh dua jenis alat musik, yaitu alat musik lokal dan alat musik hasil akulturasi dengan Eropa. Alat musik bergaya Eropa:

  • Keyboard, alat musik yang dimainkan dengan menekan tuts keyboard pakai jari tangan.
  • Biola, alat musik yang dimainkan dengan cara digesek, antara tongkat biola dan senar.

Sedangkan alat musik lokal:

  • Gendang, dimainkan dengan cara dipukul kedua sisi gendang, bisa pakai tangan atau alat pemukul gendang.
  • Gong, alat musik berukuran besar, cara mainnya dipukul memakai alat pemukul.

Walau memakai kedua jenis alat musik ini sangat berbeda, irama yang dihasilkan bisa selaras dengan gerakan penari tari campak. Sehingga menghasilkan pertunjukkan yang menakjubkan.

Tari sepen biasanya diiringi oleh lagu dan musik yang kental dengan musik tradisional Melayu. Alat musik yang digunakan seperti rebana, akordion, gendang, dan lainnya. Kalau lagu yang biasanya dipakai, lagu khas masyarakat Melayu Belitung

Kostum Tari Campak dan Sepen

Para penari sepen biasanya memakai kostum khas Melayu. Penari wanita memakai baju berlengan panjang, celana panjang dan kain untuk menutupi bagian pinggang.

Di bagian kepala memakai kerudung, tapi terkadang ada juga penari yang tidak memakai kerudung. Lalu untuk warna, biasanya para penari memakai warna cerah yang digambarkan sebagai kegembiraan.

Sedangkan kostum tari campak sangat kental dengan budaya unsur Eropa. Penari wanita biasanya memakai gaun panjang, topi, sepatu hak tinggi dan membawa sapu tangan.

Kalau penari laki-laki lebih condong ke budaya Melayu, yaitu memakai kemeja Melayu, celana panjang, selendang, dan peci. Walaupun kedua kostum penari sangat berbeda, percampuran budaya inilah yang membuat pertunjukkan tari campak lebih menarik.

Sejarah tari campak dan sepen, khas budaya Melayu, daerah Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung ini memang penting diketahui. Harapannya tarian ini tetap dilestarikan di Indonesia, bahkan ke mancanegara.

4.6 average based on 344 votes (Closed)

Leave a Reply

Your email address will not be published.