Informasi Dunia Pendidikan
Tari  

Tari Blantek Berasal dari Jakarta dan Asal Usulnya

Tari Blantek berasal dari ide koreografer sekaligus penciptanya yakni Wiwik Widiastuti bersama dengan Joko Sukosadono dan Wara Selly. Kalau soal daerah, asal Tari Blantek ini adalah Betawi dan gerakannya memang menggambarkan sosok perempuan Betawi yang ramah, cantik, dan baik.

Tarian ini telah menjadi salah satu kesenian khas milik Suku Betawi dengan kostum yang mendapatkan pengaruh dari budaya Tionghoa. Sejatinya lagi, Tari Blantek ini adalah salah satu jenis Tari Ronggeng, makanya sering disebut juga dengan Tari Ronggeng Blantek.

Asal Tari Blantek dan Asal Usulnya

Kalau berbicara soal asal Tari Ronggeng Blantek, maka seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tarian ini berasal dari Betawi, suku yang umumnya menempati Jakarta dan sekitarnya. Tari Blantek atau yang kepanjangannya adalah Tari Ronggeng Blantek ini merupakan tari kreasi baru.

Tarian ini diangkat dari teater rakyat Betawi yang juga disebut dengan nama yang sama, yakni Topeng Blantek. Kata topeng itu sendiri adalah sebutan untuk lawakan atau seni peran sementara kata blantek berasal dari suara musik pengiringnya yang berbunyi ‘blang blang tek tek’.

Pertunjukan Topeng Blantek tersebut umumnya diawali dengan penampilan suatu tarian ronggeng. Tarian Ronggeng ini kemudian dikemas dalam bentuk kreasi tersendiri yang saat ini disebut dengan Tari Ronggeng Blantek yang dalam perkembangannya dipertunjukkan secara terpisah.

tari blantek berasal dari

1.     Awal Mula Diciptakannya Tari Ronggeng Blantek

Kemunculan Tari Ronggeng Blantek ini juga ada hubungannya dengan proyek pengembangan kesenian Betawi yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah DKI Jakarta. Proyek pengembangan tersebut dimulai sejak tahun 1970.

Hal ini dilakukan dengan latar belakang terpinggirkannya kesenian tradisional Betawi akibat pesatnya modernisasi. Proyek tersebut membuat Lokakarya Tradisi Betawi diadakan guna membangkitkan kesadaran masyarakat Betawi akan eksistensi kesenian tradisional milik mereka sendiri.

Selanjutnya ada berbagai tari-tarian yang dikreasikan dengan merujuk pada berbagai tradisi yang memang sudah ada dalam kebudayaan Betawi. Untuk tari Blantek sendiri, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta baru mengembangkannya sebagai tari kreasi baru di tahun 1978.

2.     Topeng Blantek Sebagai Asal Tari Blantek

Topeng Blantek adalah pertunjukan yang hadir di tengah-tengah dua pertunjukan yang sudah ada sebelumnya, yakni pertunjukan lenong dan pertunjukan topeng. Pada masa dulu, pertunjukan lenong adalah pertunjukan kelas atas yang sudah tentu hanya bisa dinikmati kaum atas.

Sedangkan pertunjukan topeng adalah pertunjukan kelas menengah ke bawah. Nah, Topeng Blantek ini kemudian hadir sebagai pertunjukan yang bersifat netral dan berada di tengah-tengah lapisan sosial masyarakat.

Dengan kata lain, Topeng Blantek bukanlah pertunjukan yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu. Namun, semua kelas sosial masyarakat juga bisa menikmatinya. Pertunjukan Topeng Blantek kalau di zaman dulu biasanya digelar saat malam hari.

Oleh sebab itu, pementasannya seringkali menggunakan penerangan berupa obor. Konon juga para penggarap Topeng Blantek ini kebanyakan berasal dari kalangan yang saat siang menjadi petani serta pedagang, dan baru di malam hari menjadi penampil Topeng Blantek.

Biasanya, tema yang sering disajikan dalam pementasan kesenian tradisional Betawi satu ini adalah legenda Betawi itu sendiri. Diantaranya Nyai Dasima, Jampang dan Si Pitung. Selain ada pertunjukan topeng, biasanya akan ditampilkan pula tari-tariannya yang salah satunya adalah Tari Ronggeng.

Gerakan dan Bagian-Bagian Tari Blantek

Dalam Tari Ronggeng Blantek, gerakan tari akan diawali dengan gerakan yang perlahan. Lama-kelamaan gerakan ini akan berubah menjadi lebih cepat serta energik, namun tetap terlihat luwes. 

Tari ini sendiri terbagi menjadi tiga bagian, yakni bagian pendahuluan, bagian isi dan bagian penutup. Di bagian penutup tersebut, gerakan tari dimodifikasi dengan memasukkan sejumlah gerakan silat Betawi. 

Lalu soal gerakan, gerakan Tari Ronggeng Blantek juga terbagi menjadi tiga bagian sebagai berikut:

  • Manis, yakni saat seorang penari bergerak dengan gestur yang lemah gemulai dan ritme tariannya santai
  • Cepat, yakni saat seorang penari bergerak dan gerakan itu tiba-tiba berubah jadi lebih cepet
  • Klimaks, yakni ditampilkannya unsur-unsur gerakan silat namun dibawakan dengan gerakan yang sangat luwes oleh para penari

Mengenai gerakan juga, ada 31 gerakan dalam Tari Ronggeng Blantek ini yang urutannya adalah sebagai berikut:

  • Lenggang rongeh
  • Ogek
  • Selancar ngepik atas
  • Selancar ronggeng
  • Pakblang
  • Selancar pakblang
  • Ngepak blonter
  • Tepak ngarojeng
  • Kepak dua tangan mundur
  • Koma gelong
  • Goyang cendol ijo
  • Koma gelong
  • Kewer kanan
  • Koma gleong
  • Klewer dua tangan
  • Koma gleong
  • Kewer satu variasi
  • Jingke tepak blonter
  • Gibang ronggeng
  • Gonjingan satu
  • Gonjingan dua
  • Gonjingan blonter
  • Tepak soder
  • Gibang silat
  • Dorong bambu
  • Silat tangkis sejajar
  • Silat tangkis rempak
  • Gibang ronggeng
  • Dorong bambu
  • Gitek pose
  • Jingke angklek

Pertunjukan dan Busana Tari Ronggeng Blantek

Tari Ronggeng Blantek sering dipertunjukkan dalam berbagai cara kebudayaan Betawi dan biasanya juga dipertunjukkan dalam rangka menyambut tamu agung. Dalam pementasannya, Tari Ronggeng Blantek akan dibawakan oleh 4 orang hingga 6 orang yang semuanya adalah perempuan.

Tokoh perempuan kalau dalam Topeng Betawi juga disebut dengan ronggeng. Para penari ini dalam melakukan aksinya akan mengenakan pakaian yang warnanya cerah. Busana yang umum dikenakan ini ialah kain tumpal putih, baju kebaya yang warnanya pink serta selendang bermotif burung Hong.

Kemudian ada juga toka-toka silang yang berwarna merah, serbet dan ampok. Busana ini menunjukkan bahwa ada pengaruh Tionghoa di dalamnya yang ditunjukkan dengan adanya motif burung Hong atau burung phoenix, burung yang berasal dari mitologi di Tiongkok.

Selain memakai busana, para penari Tari Ronggeng Blantek juga akan mengenakan sejumlah aksesoris. Aksesoris tersebut terdiri atas anting kuning, pending, kalung bunga teratai yang bersusun tiga serta kembang topeng.

Tidak hanya ada pengaruh Tionghoa dalam busana penari Tari Ronggeng Blantek, namun ada unsur Islami juga. Hal ini sangat terlihat dari busana yang memang dibuat tertutup dan bahkan gerakannya juga sangat mempertimbangkan nilai kesopanan.

Musik Pengiring Tari Ronggeng Blantek

Tari Ronggeng Blantek saat dipentaskan juga akan diiringi oleh gamelan topeng. Musik ini terdiri dari alat musik kecrek, ancak kenong tiga pencon, seperangkat gendang yakni kulanter dan gendang besar, gong angkong atau gong tahang, dan kempul yang digantungkan pada sebuah gawangan.

Tantangan Penciptaan Tari Ronggeng Blantek

Dalam kesehariannya, masyarakat Betawi sangat lekat dengan agama, mereka memiliki rambu-rambu yang begitu ketat termasuk saat berhubungan dengan penari perempuan. Di sisi lain, Tari Ronggeng Blantek semuanya dibawakan oleh penari perempuan.

Makanya pada awalnya tarian ini sempat diragukan oleh sebagian pihak yang tidak begitu menghendaki kalau kegiatan menari dilakukan oleh perempuan. Oleh sebab itu, sang koreografer sangat memperhatikan berbagai hal terkait dengan tarian ini.

Mulai dari detail gerakannya, busananya, hingga komposisi musiknya. Semuanya diperhatikan supaya tetap sesuai dengan koridor nilai-nilai agama Islam dan sudah terbukti masyarakat memberikan respon yang positif.

Mengetahui adanya asal Tari Blantek bisa menjadi salah satu upaya melestarikan tari tradisional satu ini. Tari Blantek sangatlah menarik dan Tari Ronggeng Blantek pernah menjadi juara dalam ajang International Folklore yang dilangsungkan di Sicilia, Italia dengan peserta sebanyak 35 negara. 

4.2 average based on 693 votes (Closed)

Leave a Reply

Your email address will not be published.